3 Hal yang Harus Diperhatikan dalam Berkomunikasi dengan Anak Remaja

Seorang anak disebut memasuki fase remaja pada usia 15-21 tahun. Pada rentang usia ini, anak telah tumbuh pesat secara fisik. Pemikiran mereka pun melesat jauh sesuai tingkat pendidikan dan lingkungannya. Fase ini disebut fase anak adalah sahabat.

Mengapa disebut sebagai sahabat?

👉 Anak pada fase ini telah memiliki daya nalar yang mulai berkembang. Mereka sudah mulai mampu memilih yang terbaik di antara yang baik. Hal ini membuat mereka berani berargumen, padahal masih perlu diarahkan serta belum mampu berpikir utuh dan menyeluruh. Itulah sebabnya, anak dijadikan sahabat, agar orang tua dapat menyelami maksud anak dan anak dapat mengikuti arahan orang tua.

👉 Anak pada fase ini ingin menunjukkan eksistensi dirinya. Usia 15-21 tahun adalah saat anak telah makin luas pergaulannya dan makin ingin diakui keberadaannya. Mereka mempunyai kebutuhan untuk terkoneksi atau diterima oleh lingkungan atau komunitas. Identitas diri mereka berkembang justru saat berada di lingkaran yang  lebih luas dari keluarga. Anak dijadikan sahabat pada fase ini agar tidak terombang-ambing oleh gaya hidup sekeliling dan mampu menentukan sikap hidup yang baik sesuai arahan orang tua.

Banyak kasus terjadi di sekitar kita, anak-anak semakin labil di usia remaja. Tawuran antar pelajar, narkoba, seks bebas, penganiayaan guru, hingga tindak kejahatan lain yang lebih parah adalah akibat minimnya komunikasi orang tua dengan anak. Tidak ada teladan, kurangnya perhatian, dan minimnya kasih sayang adalah faktor kunci tergesernya minat anak dari berdiam di rumah hingga mencari perhatian di luar rumah.

Koneksi yang makin minim dan kurang terbangun antara lain disebabkan oleh anggapan orang tua bahwa anak usia 15-21 tahun sudah mampu memenuhi kebutuhan mereka sendiri, sudah cukup diajarkan kemandirian, dan dianggap tidak perlu dibimbing lagi dalam  banyak hal. Padahal, anak-anak terutama usia remaja awal, tetap memerlukan pendampingan dan perhatian dari orang tua. Hal ini karena meskipun mereka memiliki daya nalar yang semakin berkembang dan semakin paham sebab akibat, tetapi jiwa mereka masih labil dan memerlukan arahan orang tua dalam banyak hal.

Kendati memang secara fisik mereka seperti orang dewasa dan ingin mengambil keputusan sendiri dalam banyak hal, pemikiran anak usia 15-21 tahun belum sepenuhnya dewasa. Itulah sebabnya orang tua harus pandai-pandai menempatkan diri agar anak tidak merasa digurui tetapi tetap dapat ikut ambil bagian dalam setiap pengambilan keputusan penting.

Pola komunikasi atau interaksi antara orang tua dan anak baru terlihat jelas ketika anak menghadapi masalah. Anak yang memiliki kedekatan dan kontak batin yang kuat dengan orang tua akan melibatkan orang tua sebagai tempat yang nyaman menyelesaikan masalah. Sebaliknya, anak yang tidak memiliki kedekatan akan mencari penyelesaian dengan orang lain selain orang tua, yang bisa jadi memberikan pengaruh dan penyelesaian yang kurang baik.

Bagaimana agar anak pada fase ini dengan senang hati dan penuh kerelaan mau mendengar arahan atau nasihat orang tua?

1. Gunakan Kata-kata yang Baik

Pilihan kata yang baik saat berkomunukasi dengan anak adalah hal utama yang harus diperhatikan. Kata-kata yang baik membantu anak membangun kepercayaan dirinya. Anak akan berperilaku lebih baik dan lebih menunjukkan rasa hormatnya bila mendengar kata-kata orang tuanya yang menenangkan.

2. Kontak Mata

Meskipun terkesan sepele, kontak mata dengan anak bisa membuat kedekatan makin terasa. Anak akan merasa dirinya diperhatikan, diutamakan, dan dihargai.

3. Pahami Perasaan Anak

Pada situasi tertentu, anak merasa dirinya dalam kesulitan yang tidak tahu jalan keluarnya. Memahami perasaan dan memaklumi kondisi membuat anak mau memperhatikan arahan orang tua.

Dengan cara di atas, anak akan dengan senang hati membuka komunikasi yang baik dengan orang tua. Kedekatan orang tua dengan anak pada fase ini akan membuatnya terbiasa mengelola emosi sekaligus mengembangkan kecerdasan emosinya sehingga tidak menjadi anak yang temperamental dan berkarakter keras kepala.

Menjadikan anak sebagai sahabat adalah cara mudah bagi orang tua menanamkan nilai-nilai kebaikan sebagai bekalnya menjalani kerasnya kehidupan.

#Day8
#ODOP
#EstrilookCommmunity

0 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

You May Also Like