Meningkatkan Harga Diri Anak: Sulitkah?

Pernahkah melihat kenyataan di bawah ini?

Seorang ibu merasa kesal karena anaknya tidak menjawab dengan baik pertanyaan tetangga.

“Gitu, aja nggak bisa jawab. Malu-maluin ibu aja ah.”

Atau seperti berikut ini:

Anak yang belajar naik sepeda roda dua disemangati dengan cara yang salah.

“Ayo, Dik, kamu bisa. Ayo, jangan miring-miring. Gitu aja sulit banget, sih, Dik?”

Sadarkah Ibu, kata-kata itu menyakitkan bagi anak? Dengan kalimat itu, sadar atau tidak telah merendahkan harga diri anak.

Harga diri, menurut KBBI adalah kesadaran akan berapa besar nilai yang diberikan kepada diri sendiri.

Sedangkan menurut Wikipedia, harga diri adalah pandangan keseluruhan dari individu tentang dirinya sendiri.

Masih menurut Wikipedia, anak dengan penghargaan diri yang tinggi mungkin tidak memandang dirinya sebagai seseorang, tetapi juga sebagai seseorang yang baik.

Dari definisinya, kita dapat menyimpulkan bahwa harga diri penting dimiliki oleh setiap orang. Bila seseorang memandang dirinya dengan penghargaan yang baik, maka dia akan dengan mudah menemukan setiap potensi dalam dirinya, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.

Itulah sebabnya, mengapa seseorang harus memiliki harga diri, karena membuat seseorang dihargai, membuat dirinya dipercaya, dan memudahkan dalam  pergaulan. Bagaimana bisa memiliki harga diri, bila orang tua justru meremehkan kemampuannya dan tidak menghargai kelebihannya? Segala potensi dalam diri anak tidak akan muncul.

Pertanyaannya, sulitkah membuat anak memiliki harga diri? Bagaimana komunikasi yang tepat agar anak dapat dengan mudah meningkatkan harga dirinya?

Ternyata tidak sulit membuat anak memiliki harga diri. Orang tua dapat mulai membangunnya sejak di fase awal perkembangan anak. Seiring dengan bertambahnya usia, anak akan terbiasa menjaga agar tetap memiliki harga diri.

Harga diri tidak datang dengan sendirinya. Orang tua dapat membangun harga diri anak dengan tiga cara
πŸ‘‰ memperbesar rasa kompetensi yaitu rasa percaya diri untuk mengaktualisasikan semua yang dimilikinya, mulai pengetahuan  ketrampilan, hingga perilaku.
πŸ‘‰ mengarahkan anak untuk selalu berbuat baik
πŸ‘‰ meyakinkan anak bahwa orang tua menghargainya.
πŸ‘‰ tidak segera mencela saat anak mengalami kegagalan

Setelah terbangun tiga hal penting di atas, selanjutnya orang tua harus berkomunikasi yang baik dengan anak dan memperhatikan lima hal penting berikut ini.

1. Tidak Berlebihan Memberikan Pujian

Orang tua memang perlu memuji anak untuk meningkatkan semangatnya, menghargai usahanya, dan menumbuhkan rasa percaya dirinya. Namun, bila berlebihan akan membuat anak hanya fokus pada kelebihannya dan tidak memperhatikan kekurangannya untuk dijadikan pelajaran.

2. Tidak Terlalu Ikut Campur

Sekali waktu, cara terbaik untuk meningkatkan harga diri anak adalah mengetahui saat yang pas untuk menarik diri dari masalah yang dihadapi anak. Bukan untuk membiarkannya dalam kesulitan, tetapi untuk melatihnya agar lebih berkompeten. Mulai memetakan masalah, mencari solusi, mengambil keputusan penting, hingga menanggung risiko dan konsekuensi logis atas pilihannya, biarkan dilakukan sendiri.

3.  Biarkan Anak Memilih Sendiri

Memilih sendiri membuat anak memiliki kebebasan dalam bersikap. Orang tua perlu menjelaskan banyak hal pada anak tentang pilihan-pilihan beserta akibatnya agar anak memiliki wawasan yang luas, kemudian biarkan anak menentukan sendiri. Semakin dini menerapkan hal ini, semakin cepat anak mampu berpikir kritis dan mengambil langkah penting dalam hidupnya.

4. Pastikan Tujuan Anak Mudah Diraih

Orang tua perlu memastikan bahwa tujuan yang ingin dicapai anak dalam jangkauan kemampuannya. Bila telah terbaca tujuannya terlampau tinggi, tidak realistis, dan bahkan memaksakan diri, maka akan sulit meraihnya dan akan membuatnya kecewa.

5. Selalu Beri Contoh

Menyediakan waktu khusus dengan anak penting untuk menguatkan ikatan batin sekaligus memberi contoh tentang banyak hal. Anak akan meniru cara orang tua melakukan sesuatu dengan benar agar memiliki acuan saat bertindak sendiri.

Orang tua yang mengetahui sejauh mana anak dapat menilai dirinya sebagai anak yang memiliki kemampuan serta perasaan berharga  dan berarti, tidak akan menemui kesulitan meningkatkan harga dirinya. Namun, bila sebaliknya, maka harus ada komunikasi lebih intens menggali informasi dari anak, hal-hal apa saja yang membuatnya merasa tidak mampu dan tidak berharga.

Dengan terus menggali informasi, orang tua akan semakin paham, langkah apa atau hal penting apa yang harus lebih fokus diperhatikan agar anak dapat meningkatkan harga dirinya.

0 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like