Ketika Anak Dipilih Sekolah untuk Berkompetisi

Bersama guru dan teman-temannya
 sesaat sebelum kompetisi dimulai.
Hanum, baris depan, kedua dari kanan.

Anak-anak yang dipilih mengikuti lomba di sekolahnya tentu membanggakan. Tidak semua anak memiliki kapasitas yang layak dipilih untuk lomba tertentu.

Pada anak usia Taman Kanak-kanak, esensi lomba mungkin tidak terlalu dimengerti. Akan tetapi, saat anak menginjak usia Sekolah Dasar, esensi itu sudah mulai dipahami. Hal ini karena guru di sekolah mulai berharap, baik tersirat maupun tersurat, akan kemenangan anak, sekecil apa pun itu. Anak dibekali dengan bermacam materi untuk persiapan. Kadang, jika waktu terbatas dan lomba segera dilaksanakan, anak akan dilatih terus menerus untuk persiapan.

Hal inilah yang terjadi pada anak keempat saya, Hanum Aulia Rusydaa. SD Muhammadiyah 12 Surabaya, tempatnya sekolah, memilih untuk disertakan dalam lomba di Universitas Muhammadiyah Malang. Ajang lomba bergengsi bertajuk MEA ( Muhammadiyah Education Award) ini diadakan oleh Dikdasmen Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur.

Persiapan yang dilakukan selama sekitar satu bulan itu sangat melelahkan. Hanum sampai harus diculik pembinanya dari kelas saat pelajaran belum usai, untuk belajar khusus dalam rangka mengikuti event tahunan itu. Ada empat jenis pelajaran yang dilombakan, yaitu IPA, Matematika, Bahasa Inggris, dan Ismuba (Al Islam, Kemuhammadiyahan, Bahasa Arab). Hanum terpilih untuk pelajaran IPA.

Berita keberangkatan ke Malang untuk mengikuti MEA bisa dibaca di sini.

Sejak mulai belajar untuk persiapan hingga menjelang keberangkatan, Hanum tidak pernah mau mengulang belajar di rumah. Hal ini karena ia ingin saat di rumah bisa bersantai dan  beristirahat. Menurut anak kelas lima itu, belajar IPA untuk lomba cukup dilakukan di sekolah saja.

Sebagai ibu, tentu saya menginginkan hasil maksimal dengan belajar di sekolah dan di rumah. Akan tetapi, melihat kondisinya yang kelelahan, saya tidak tega mengajaknya belajar lagi. Hingga saat yang ditunggu-tunggu itu pun tiba. Hari Sabtu, 21 September 2019, Hanum bersama tujuh teman yang lain berangkat ke Malang untuk mengikuti lomba MEA.

Sebagai sekolah favorit yang langganan menelurkan banyak juara, guru-guru SD Muhammadiyah 12 Surabaya sangat bijak memotivasi anak didik yang ikut lomba. Tidak ada keharusan untuk menang, tetapi anak-anak diwajibkan berusaha semaksimal mungkin. Hal inilah yang mendamaikan hati anak-anak. Mereka hanya diharuskan belajar semaksimal mungkin tanpa rasa dibebani, juga tanpa tekanan harus menang. Para ustaz dan ustazah hanya meminta anak bersungguh-sungguh dan menjadikan event MEA ini adalah  pengalaman. Bukankah pengalaman itu adalah guru yang paling berharga? Pengalaman memberikan bekal terbaik untuk meraih kesuksesan di masa yang akan datang.

Baca juga:

6 Trik Mudah Agar Anak Tidak Malas Belajar

Sebagian orang tua tidak terlalu bersemangat bila anaknya mengikuti lomba. Sebagian yang lain bahkan terlalu semangat hingga anak diminta untuk juara. Bagaimana dengan saya? Bagi saya, dengan terpilihnya anak untuk mewakili sekolah saja sudah saya anggap juara. Bukankah memilih peserta lomba juga melalui seleksi? Demikian juga untuk MEA, anak-anak tentu sudah melalui sejumlah pengamatan dan penyaringan oleh para guru sebelum akhirnya terpilih mewakili sekolah. Itulah sebabnya, kemenangan dalam lomba hanya bonus di mata saya. Kemenangan yang sesungguhnya adalah ketika anak terpilih sebagai wakil sekolah dan bersedia diajak belajar lebih tekun dengan banyak materi yang memusingkan kepala.

Suasana kelas saat mengerjakan soal-soal IPA

Sebenarnya, apa saja manfaat anak mengikuti lomba atau berkompetisi?

1. Menginspirasi Anak untuk Menjadi Lebih Baik

Dengan terpilihnya anak mewakili sekolah, membuat anak berusaha melakukan lebih dari yang diminta. Dia akan cenderung ingin mempersembahkan yang terbaik dalam apa pun yang dilakukan.

2. Belajar Menerima Kekalahan/Kegagalan

 Terbiasa berkompetisi membuat anak belajar menerima kemenangan dan kegagalan. Sangat penting bagi anak belajar menerima kekalahan. Jika tidak, mereka akan merasa harus menang sepanjang masa. Yang bahaya, anak akan merasa bahwa takut kalah itu akan membuat mereka tak  perlu mengambil risiko.

3. Terbiasa Bekerja Keras

Anak-anak yang terbiasa terlibat dalam kompetisi akan lebih memahami nilai bekerja keras. Mereka akan termotivasi untuk berusaha semaksimal mungkin meraih yang diinginkannya dan lebih bersemangat mewujudkannya.

4.  Mengembangkan Keyakinan Diri

Anak yang berani berkompetisi akan menjadi lebih percaya diri dengan apa pun yang dikerjakan. Bila belum berhasil menjadi juara, akan lebih termotivasi dan giat berusaha meraihnya di masa yang akan datang.

Dengan sederet manfaat di atas, apa yang membuat kita ragu mendukung anak agar tidak malas ikut lomba?

Hal penting yang harus dilakukan orang tua adalah tidak bosan meluangkan waktu menemaninya belajar lebih giat dan tidak memaksanya bila telah lelah atau jenuh.

Apa saja yang sebaiknya dilakukan orang tua?
1. Bekali anak dengan sikap positif dan mental juara sehingga semangat berkompetisinya besar;
2. Dorong anak melakukan latihan yang cukup;
3. Persiapkan Anak Menerima Kekalahan;
4. Tunjukkan bahwa orang tua tetap mendukung, meskipun nantinya anak tidak menang.

Sudahkah melakukan hal-hal di atas saat anak berkompetisi? Jika sudah, biarkan anak tetap menikmati harinya tanpa tekanan, meskipun bersiap akan berkompetisi.

Bersantai sejenak sebelum kembali ke Surabaya
Hanum, duduk depan paling kiri,
kerudung hitam.

Saat tulisan ini dibuat, sudah ada berita bahwa Hanum dan teman-temannya belum berhasil masuk ke babak final. Kecewakah saya? Tidak. Dengan peserta sebanyak lebih dari 3.600, lomba ini cocok untuk Hanum menambah pengalaman dan belajar merasakan aura kompetisi dalam gedung luas milik Universitas Muhammadiyah Malang itu. Semoga setelah ini Hanum makin giat belajar dan tekun berlatih mengerjakan soal-soal untuk persiapan MEA tahun depan.

0 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

You May Also Like