6 Cara Melatih Konsistensi pada Anak

Bagaimana bila anak tidak memiliki aktivitas rutin yang bermanfaat?
Apa jadinya bila rutinitas anak tidak disertai aturan?
Apa pula jadinya bila aturan itu tidak diterapkan secara konsisten?

Sejumlah pencapaian bisa diraih dengan konsisten. Konsiten berlatih, konsisten membaca, dan bentuk-bentuk konsisten lain sebagai wujud kesungguhan.

Apakah konsistensi itu?

Konsistensi adalah kemampuan untuk terus menerus berusaha sampai suatu pencapaian diraih. Konsisten merupakan salah satu kunci sukses. Segigih apa pun seseorang bekerja keras, bila tidak diiringi konsistensi maka keberhasilan akan sulit diraih.Terlebih lagi bila ditambah rasa malas.

Konsisten itu sikap hidup yang perlu diupayakan dan dilatih terus menerus. Oleh karena itu, penting sekali dijadikan kebiasaan bagi anak-anak agar sedini mungkin mereka belajar bertahan di semua kondisi, sesulit apa pun. Konsistensi membantu anak mengembangkan rasa tanggung jawab karena mereka tahu bagaimana harapan orang tua dan apa yang sebaiknya tidak dilakukan. Faktanya, anak-anak yang memiliki aturan yang konsisten cenderung lebih baik dalam berperilaku.

Bagaimana caranya melatih anak menjaga konsistensi?

1. Mulai Dari Diri Sendiri

Bagaimana mungkin menjadikan anak konsisten, bila orang tua belum bahkan tidak konsisten di semua lini kehidupan. Anak-anak akan meniru bagaimana cara orang tua bertahan di suatu pilihan dan teguh dalam pendirian.

2. Mulai Dari Hal-Hal Kecil

Melatih anak konsisten membutuhkan kesabaran. Bisa dimulai dari hal sederhana dalam keseharian, seperti konsisten jam belajar, konsisten waktu bermain,  atau konsisten membaca AlQur’an sehari sekian ayat atau lembar. Bicarakan dengan anak hukuman apa yang akan diterimanya bila tidak menjalankan konsistensi. Saat telah terbiasa melakukan hal-hal kecil, anak akan lebih mudah konsisten dalam hal-hal besar.

3. Membuat Jadwal Bersama Anak

Melibatkan anak membuat jadwal yang harus ditepati adalah salah satu upaya melatih anak bertanggung jawab melaksanakannya. Buat anak nyaman dengan pilihannya dan beri arahan bagaimana mereka menepati jadwal. Jauhkan diri dari sikap menekan agar anak tidak merasa terbebani.

4. Memahami Kondisi Anak

Keinginan orang tua menjadikan anak konsisten harus dengan memperhatikan kondisinya. Aturan yang  dibuat harus fleksibel dan tidak memberatkan anak. Hal ini penting diperhatikan agar tidak ada penolakan anak di tengah jalan, saat aturan diterapkan.

5. Memilih Fokus pada Satu atau Dua Prioritas



Bila berniat melatih anak konsisten pada suatu hal tertentu, biasakan fokus pada satu atau dua prioritas. Saat tidak ada prioritas, anak akan kesulitan mengutamakan yang lebih dulu harus dikuasainya. Sebaliknya, saat jelas prioritasnya, anak akan lebih mudah fokus.

6. Memberi Hadiah Bila Berhasil Konsisten




Imbalan berupa hadiah sebagai wujud perhatian orang tua menghargai jerih payah anak sekali-sekali boleh diberikan. Tentu tujuannya menyemangati, bukan menjadikannya kebiasaan. Hal ini penting agar anak terbiasa menjalani segala sesuatu karena kesadaran, bukan karena hadiah. Anak yang sering mendapatkan apresiasi atas kerja kerasnya akan berusaha menjaga agar bisa menjadi lebih baik lagi dan lagi. Hadiah adalah penghargaan yang membuatnya bersemangat menjaga konsistensi.

Disadari atau tidak, konsistensi adalah kunci mendisiplinkan anak. Hal ini karena anak-anak harus dapat memprediksi bagaimana mereka sebaiknya berperilaku. Konsistensi perlu ditingkatkan kualitasnya di setiap tahapan usia.

Menjadikan anak konsisten tentu perlu waktu. Biarkan anak berproses secara alami. Soal hasil serahkan pada Allah saja. Jangan pernah lelah menjadi teladan yang baik bagi anak. Kelak kita akan menuai hasilnya. Insya Allah.

0 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

You May Also Like