Review Buku: 365 Hariku Bersama Ananda. Terapi Mandiri pada Anak dengan Gangguan Selective Mutism

Menanti kehadiran buah hati adalah hal menakjubkan dalam perjalanan hidup hampir setiap pasangan suami istri. Apakah Anda juga demikian? Kalau ya, Anda tidak sendiri. Jutaan pasangan menikah menanti buah hati dengan debar tak biasa. Melangitkan doa dengan hati yang dilingkupi kepasrahan. Sungguh suatu karunia yang besar saat Allah akhirnya menitipkan amanah berupa kelahiran buah hati.
Hal menakjubkan berikutnya adalah menemani tumbuh kembang anak. Setiap jengkal, setiap inci peningkatan kemampuan anak adalah kebahagiaan. Terlebih lagi, bila pasangan suami istri memahami konsep syukur dan mengaplikasikannya secara tepat dalam kehidupan berumah tangga. Mereka tidak mudah kecewa bila mendapati anak terlahir “berbeda.” Tidak buru-buru menangis saat melihat anak memiliki “kekurangan,” tetapi justru membuat hari-hari orang tuanya lebih berwarna, lebih semangat meningkatkan kemampuan anak, dan lebih mendekatkan diri kepada Allah.
Buku berwarna ceria yang ditulis oleh Sitatur Rohmah ini bisa menjadi salah satu bekal para orang tua menjalani hari-hari dengan anak yang “berbeda.” Bagaimana caranya? Bukan dengan membanding-bandingkan dengan teman sebaya atau saudaranya, bukan dengan membuatnya merasa “tersisih,” tetapi justru membuatnya merasa diterima dan diakui keberadaannya seperti halnya anak-anak yang lain.
Penulis asal Solo ini mengupas tuntas tentang aktivitasnya membersamai sang buah hati yang mengalami Selective Mutism, yaitu suatu gangguan kecemasan yang membuat anak fobia bicara atau memilih mode “mute” (diam) di lingkungan yang membuatnya tidak nyaman. Sebuah gangguan tumbuh kembang yang jika diabaikan akan berdampak buruk di masa depan. Lantaran kemampuan berinteraksi dan bersosialisasi merupakan salah satu bentuk kemampuan penting di masa tumbuh kembang anak-anak maka segera mengatasinya adalah langkah tepat dan bijak.
Blurb | 365 Hariku Bersama Ananda
Apakah buah hati Anda mengalami kondisi cenderung pendiam, pemalu atau sulit berkomunikasi jika berada di luar rumah dan sebaliknya menjadi cerewet atau terbuka ketika berada di rumah atau lingkungan yang sudah dikenalnya?

Jika kondisi tersebut berjalan dalam waktu lama, tak ada salahnya jika kita mewaspadai bahwa mereka mengalami gangguan selective mutism. Apa itu selective mutism? Sejauh mana gangguan tersebut berbahaya dan memengaruhi tumbuh kembang anak?

Menyimak kisah dalam buku ini akan membawa kita belajar dan memahami bagaimana menghadapi anak dengan gangguan selective mutism. Buku ini memaparkan perjuangan seorang ibu membersamai buah hati dengan selective mutism melalui pola asuh, pendekatan dan pendampingan yang tepat secara mandiri.

Dengan mencari rujukan, menelaah, mengkaji, memodifikasi serta menerapkan pola asuh dan pendekatan yang sesuai dengan kondisi dan karakter si anak, dalam kurun 365 hari, anak mengalami perubahan yang signifikan ke arah positif.
Data Buku: 365 Hariku Bersama Ananda
Judul: 365 Hariku Bersama Ananda, Terapi Mandiri pada Anak dengan Gangguan Selective Mutism
Penulis : Sitatur Rohmah
Editor : A. Mellyora
Desain Sampul: Wendy TAJ
Ilustrator: Bayu Aryo D
Penata Letak isi: Tofa
Proofreader: Cahyadi H. Prabowo
ISBN : 978-623-7506-10-2
xiv, 146 hlm, 21 cm
Cetakan 1- Solo, Desember 2019
Penerbit: Metagraf, Creative Imprint of Tiga Serangkai
Kategori: Parenting

Harga: Rp 50.000,-
Tentang Penulis
Sitatur Rohmah, seorang ibu rumah tangga penuh waktu dengan dua putri dan dua putra. Lulusan Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret tersebut lebih memilih bekerja di dunia radio. Tak kurang dari 15  tahun ia meniti karir di dunia kepenyiaran, mulai sebagai penyiar, (broadcaster), reporter, programmer siaran, hingga terakhir manager siaran, sebelum akhirnya resign dan fokus mengurus keluarga.

Dunia literasi mulai dilirik sekitar bulan Juli 2018 saat anak bungsunya mulai masuk ke bangku sekolah dasar. Dengan niat memanfaatkan waktu untuk sesuatu yang lebih bermanfaat, ia mulai mengikuti kelas kepenulisan secara online. Pilihan jatuh pada tulisan nonfiksi dengan kekhususan menulis artikel bertema parenting dan lifestyle. Tulisannya dalam bentuk artikel sudah banyak dimuat, baik di media online maupun media cetak.

Karya literasinya berupa buku antologi bersama anggota komunitas penulis, antara lain Dawai Kata Hati (Kumpulan Prosa Liris)-JA-Publishing, 2018, Rihlah to Jannah (Kumpulan Cerita Inspiratif), Pejuang Literasi-2019, Bukan Kartini Terakhir (Kumpulan Cerita Inspiratif tema Kartini Era Milenial)-Dandelion Publisher, dan beberapa buku antologi yang masih dalam proses cetak.

Salah satu prestasi yang ditorehnya di dunia literasi adalah memenangi Lomba Menulis Artikel yang diselenggarakan oleh Koperasi Pondok Pesantren Daarut Tauhid, pada bulan Mei 2019 sebagai juara 1.
Review Buku:  365 Hariku Bersama Ananda. Terapi  Mandiri pada Anak dengan Gangguan Selective Mutism

Buku bernuansa pink yang nyaman dibaca ini tebalnya 146 halaman.  Sebagai buku parenting yang mengajak pembaca menerima sepenuhnya kondisi anak dengan gangguan selective mutism, penulis sukses mengulas secara rinci bagaimana sebaiknya orang tua mengambil langkah bijak.

Disusun rapi dalam tiga bab, yaitu

Bab 1: Menyadari dan Menerima 
Bab 2: Membersamai dan Melompat Bersama
Bab 3: Melangkah Optimis dengan Anak Selective Mutism

Pada bab 1, penulis secara rinci membuat pembaca paham dengan istilah selective mutism, salah satunya dengan menandaskan bahwa selective mutism bukanlah gangguan komunikasi. Selain itu, gangguan itu tidak muncul bersamaan dengan gangguan perkembangan, skizofrenia, atau gangguan psikosis yang lain. (hal.5)

Kebiasaan masa kecil, terutama masa balita akan sangat berpengaruh pada kebiasaan saat dewasa kelak. Itulah sebabnya, jika ada kebiasaan yang kurang pas, harus diperbaiki atau diubah supaya anak menemukan pola yang tepat. (hal. 6)

Lebih lanjut penulis menjelaskan perlunya keteraturan jadwal dalam keseharian anak, mulai tidur, bermain, berinteraksi dengan keluarga, hingga tidur lagi. Bila anak memiliki pola yang tepat dan kebiasaan baik yang diterapkan orang tua di rumah, kemungkinan anak mengalami selective mutism bisa dicegah.

Namun, bila hal itu tidak dilakukan orang tua, dan anak telanjur mengalami kesulitan berkomunikasi jika berada di luar rumah, tetapi menjadi cerewet ketika di dalam rumah atau di lingkungan yang dikenalnya, orang tua perlu melakukan upaya serius agar kondisi itu tidak berlanjut.

Pada bab 2, penulis menegaskan bahwa secara umum, yang dibutuhkan anak dengan selective mutism adalah penerimaan terhadap dirinya secara utuh, termasuk kekurangannya. (hal. 22).

Penulis menceritakan beberapa situasi yang membuat anak sedih, bahagia, takut, marah, bermacam rasa lain dan korelasinya dengan rasa percaya diri anak. Hingga akhirnya dapat ditunjukkan bahwa rasa percaya diri menjadi modal utama untuk menghalau ketakutan berbicara (hal. 22).

Berbagai langkah membersamai anak ditunjukkan dengan manis oleh penulis. Yang terpenting adalah menghindari lima hal dalam menghadapi anak dengan selective mutism dan kapan membutuhkan bantuan tenaga profesional.

Pada bab 3 atau bab terakhir, yaitu melangkah optimis dengan anak selective mutism. Penulis kembali menegaskan mengajak pembaca untuk mengakui bahwa setiap anak adalah istimewa. Tiap anak dikaruniai kelebihan dan kekurangan yang masing-masing tentu tidak sama. Itulah sebabnya, mereka harus diterima apa adanya. Bila menemukan kekurangan, bukannya panik, tetapi harus cepat dan tanggap, serta mengambil langkah cepat untuk memperbaiki.

Anak dengan selective mutism memerlukan penanganan khusus, perlakuan khusus, dan teknis khusus pula (hal. 120). Orang tua sangat perlu menggali sebanyak-banyaknya informasi mengenai gangguan yang satu ini agar melangkah cepat untuk memperbaiki.

Baca juga:

4 Hal yang Membuat Anak Unik dan Berbeda

Apakah buku 365 Hariku Bersama Ananda ini layak dibaca?

Tentu.

Buku dengan soft cover ini sangat layak dibaca oleh orang tua, guru, maupun pemerhati masalah parenting. Tulisan demi tulisan dalam tiap bab adalah based on  true  story. Mengupas langkah-langkah menemukan kekurangan dan memperbaikinya sebelum semuanya terlambat. Quote-quote pembangun jiwa yang bertebaran dalam buku ini begitu inspiratif dan membuat pembaca makin memahami pentingnya mengamati anak, menemukan kekurangan dan kelebihannya, serta  bersegera merancang penanganan terbaik.

Pengalaman orang tua lain,  paparan dan penjelasan dokter, dan deretan data dari sumber terpercaya membuat buku ini sarat info bergizi yang sayang bila dilewatkan.

Kekurangan

Tak ada gading yang tak retak. Hampir tidak ada buku yang sempurna, demikian juga buku ini. Saya tidak mendapati penulis menunjukkan periode waktu dalam menangani ananda yang diketahui mengalami gangguan.

Dalam benak saya saat membaca judul buku ini, penulis memaparkan upaya-upaya terapi mandiri dengan menunjukkan langkah konkret dari waktu ke waktu selama 365 hari. Misalnya 100 hari pertama, hal yang dilakukan apa, 100 hari kedua langkah apa yang ditempuh, dan sisa hari menunjukkan upaya apa saja. Nyatanya, penulis tidak melakukan hal ini sehingga saya akhirnya menganggap kata “365 hari” itu hanya kiasan yang bermakna bahwa upaya yang dilakukan orang tua membersamai ananda dilakukan sepanjang waktu, sepanjang tahun, dan terus menerus tanpa kenal lelah.

Selain itu, saya juga tidak mendapati keterlibatan saudara, baik saudara kandung ataupun sepupu mengatasi gangguan ananda. Apakah hubungan dengan saudara berpengaruh pada proses penyembuhan? Hal ini tidak dijelaskan. Saya mengibaratkan dalam menghadapi anak saya sendiri yang mengalami speech delay dan kerusakan syaraf motorik halus. Keterlibatan saudara kandung berpengaruh sangat besar pada upaya terapi. Penerimaan dan dukungan saudara kandung menambah semangat belajar anak saya. Tidak ada olok-olok, perlakuan sama, kesempatan dan kepercayaan yang sama membuatnya merasa lebih berarti dan tidak minder karena “keterbatasannya.”

Simpel, tidak bertele-tele, dan mudah dipahami adalah kesan yang didapat setelah menyelami makna lembar demi lembar dalam buku ini. Sajian data yang akurat membuat kalimat demi kalimat dalam buku ini menjadi semacam pelecut semangat bagi para orang tua agar lebih intens memperhatikan tumbuh kembang buah hati. Bahwa kebutuhan mereka tidak cukup sekadar terpenuhi sandang, pangan, dan papan semata, tetapi juga perhatian tulus, penerimaan dan kepercayaan, serta dorongan untuk tidak putua asa menjalani hari-hari bagaimana pun kondisinya.

Penasaran bagaimana langkah detail penulis melakukan terapi mandiri kepada buah hatinya? Jangan ragu mendekap buku ini. Pelajaran sederhana dari kisah keseharian yang dikemas manis dalam buku ini memiliki makna yang tidak sederhana. Anda akan dibuat makin bersyukur atas kehadiran buah hati dan tidak lagi merasa berkecil hati bila menemukan “kekurangan.”

Anda bisa segera mendapatkan buku ini di toko-toko buku ternama di kota Anda. Bisa pula menghubungi langsung di nomor WA Penulis: 085105016441


0 Shares:
16 comments
  1. Barakallah untuk penulis dan semua yang terlibat. Terapi mandiri ini insya Allah sangat bermanfaat bagi orangtua yg memiliki anak selective mutism. Karena biasa org ragu utk konsultasi krn banyak pertimbangan ya. Membaca buku ini insya Allah bisa jadi solusi.

  2. Tidak banyak orang tua yang mampu menerima kondisi buah hati yang berbeda. Tidak jarang malah mengabaikannya.

    Buku ini bisa menjadi salah satu cara pandang mereka, bahwa setiap anak terlahir dengan keistimewaannya masing-masing.

    Jika bukan orang tuanya yang menyadarinya, lalu siapa lagi?

    Keren.

  3. Mengasuh anak dengan kondisi khusus pada akhirnya memang menghebatkan keduanya. ya anak ya orangtua. Karena pada kondisi seperti ini orangtua tentu harus belajar lebih banyak dibanding orangtua biasa. Bayangan saya buku ini juga berbentuk daily activity gitu, Mbak. Mungkin bisa jadi masukan nih buat Mbak Sita selaku penulisnya.

  4. Barakalloh untuk mbak sita atas terbitnya buku solo beliau. Saya pernah diminta menjadi juri bercerita dalam lomba antar SLB. MasyaAllah, saya disitu belajar betapa sungguh bbesar dan tangguh perjuangan para orang tua dan guru untuk membersamai putra putri mereka yang berkebutuhan khusus. Salut.

  5. Kadang orang tua menganggap anaknya pemalu karena memilih diam ketika di luar lingkungan dan bisa banyak bicara ketika ada di rumah atau lingkungan terdekatnya. Padahal itu bisa saja anak tersebut mengalami Selective Mutism, ya …

  6. Saya sudah membaca bukunya dan baru tahu istilah selective mutism ini dari buku ini.Dan di luar penjelasan ynag diberikan , sama saya juga pertama mengira bukunya akan memaparkan dengan detil 365 hari terapi ternyata hanya kiasan. Tapi apapun temayang berbeda dari biasa menarik untuk dibaca

  7. Saya baru ngeh dengan istilah Selective Mutism setelah membaca ulasan buku ini di blog teman yang lain. Ini ulasan kedua yang saya baca. Dari pemaparannya, buku ini memang layak dibaca para orang tua. Tidak hanya bagi anaknya yang 'bermasalah' saja, ortu yg anaknya tak kelihatan bermasalah pun perlu tahu. Sehingga akan ada empati dan bisa menarik hikmah.
    Saya selalu percaya bahwa setiap anak itu istimewa dan pasti akan membuat orang tuanya terinspirasi. Salut buat Mbak Sita yang bisa menggali hikmah keseharian dengan anandanya dan akhirnya melahirkan buku ini

  8. Wah, bukunya bagus ya, Mbak. Aku baru tau ada masalah tumbuh kembang yg seperti itu. Setauku anak diem ya karena pendiem. Ya ampuun. Ternyata ga bisa sepele ya dengan diamnya anak. Aaah, menjadi ibu memang harus belajar setiap hari. Makasih resensinya, mbak. Lengkap dan detail.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

You May Also Like