Jenuh di Rumah Saja Saat Lockdown? Ini, Nih, yang Bisa Dilakukan Agar Kejenuhan dalam Keluarga tidak Berlarut-

Pandemi Covid 19 sudah makin menjadi-jadi. Pemberitaan di banyak media tak jarang membuat dada sesak karena khawatir. Kendati demikian, kepedulian masyarakat Indonesia terhadap sebaran virus yang sudah menelan banyak korban jiwa tidaklah sama. Ada yang serius menjauhkan diri dan keluarga dari bahaya tertularnya virus berbahaya ini, ada yang biasa-biasa saja, dalam arti tetap stay at home dan bermasker, dan ada juga yang kurang peduli alias tidak memperhatikan anjuran pemerintah untuk tetap di rumah saja, cuci tangan, dan bermasker. Anda termasuk golongan yang mana? Apa pun yang dipilih, ada konsekuensi yang harus dihadapi. 
Merebaknya pemberitaan tentang jumlah korban membuat sebagian orang meningkatkan kewaspadaan. Mari kita lihat data berikut ini, yang disebarkan ke banyak grup WA oleh  Gugus Tugas Covid 19 Kota Surabaya. Data berikut adalah data tanggal 17 April 2020
1. ODP : 1658
2. PDP :  634
3. KONFIRMASI : 246
4. Orang Tanpa Gejala (OTG) : 572
5. Orang Dengan Resiko (ODR) : 4272
6. MENINGGAL : 24

Kondisi ini akan terus bergerak sementara 20 Rumah Sakit Rujukan di Surabaya dengan kapasitas Ruang terbatas yang juga menerima pasien dari luar Kota Surabaya. Padahal kalau semua ODR, OTG, ODP, PDP dan KONFIRMASI masuk Rumah sakit …. maka tidak akan mampu menampung seluruh pasien.

Sementara di luar sana masih banyak warga yang berkumpul dengan jarak dibawah 1m, tidak pakai masker, tidak cuci tangan. Dan berkeliaran di luar tanpa ada tujuan yang jelas. Seolah olah tidak terjadi apa apa. Padahal pandemi ini sudah menyebar dan mengancam kita tanpa ada gejala yang dapat dilihat dengan mata kita.

Langkah Utama penghentian virus ini adalah TINGGAL DI RUMAH (JAGA JARAK, PAKAI MASKER DAN CUCI TANGAN pakai sabun)…

Kedisiplinan warga mentatati Protokol Kesehatan adalah bantuan yang berharga bagi kami di lapangan.

Gugus Tugas Covid 19 Kota Surabaya

Saya dan keluarga bukan golongan yang terlalu takut pada wabah ini, tetapi juga bukan yang “nyantai” apalagi tidak peduli memperhatikan anjuran pemerintah. Namun, bila ada keperluan mendesak, kami masih keluar rumah untuk memenuhi berbagai kebutuhan.
Anjuran untuk di rumah saja sudah memasuki minggu keenam di Propinsi Jawa Timur. Tidak hanya anak-anak, orang dewasa termasuk para ibu sudah mulai jenuh dengan situasi seperti saat ini. Padahal, sebagian ibu yang tidak bekerja di luar rumah atau full time mom, melakukan rutinitas yang sama dalam waktu lama mungkin sudah sangat terbiasa. Akan tetapi, situasi   jadi berbeda saat virus CORONA merebak sekarang ini. Anjuran pemerintah untuk melakukan semua aktivitas di rumah saja membuat para ibu memiliki tambahan tugas. 
1. Menemani anak mengerjakan tugas belajar online;
2. Mengatur jadwal kegiatan harian selama anak-anak di rumah agar tidak hanya bermain tanpa kenal waktu;
3. Menjaga asupan gizi agar nutrisi keluarga tercukupi dan daya tahan tubuh kuat;
4. Menyiapkan makanan tambahan agar lebih semangat mengerjakan tugas;
5. Membantu suami mengerjakan tugas/pekerjaan online (bila diperlukan);
5. Menjaga kebersihan rumah;
6. Menjaga kesehatan diri agar kuat menjalani rutinitas yang padat sehari-hari;
7. Menyisihkan waktu untuk hobi dan kesenangan ibu, seperti menulis, membaca, atau menjalin pertemanan agar tetap sehat lahir batin dan semangat.
Ketika anak-anak atau suami yang stres, kita berusaha mencari jalan keluar agar tidak berlarut-larut. Akan tetapi, bagaimana bila kita sebagai istri dan ibu yang stres? Kelelahan mental dan fisik tentu akan berpengaruh pada kesabaran dan daya pikir ibu. Padahal, keluarga sangat bergantung  pada ibu, pada perhatian dan ketulusan ibu yang selalu hadir saat seluruh anggota keluarga dilanda kejenuhan.
Bila hal itu terjadi, apa yang sebaiknya dilakukan? Tidak mungkin kita me time sendiri sesuka hati melepas tanggung jawab. Tidak mungkin kita mengabaikan keluarga, sedangkan mereka sangat membutuhkan kita. Yang realistis, kita (terutama para ibu) harus mengatur langkah nyata, menata ulang semangat, menguatkan dan melapangkan hati, serta lebih optimis menatap masa depan.
Kita bisa melakukan 10 hal berikut ini untuk menjaga agar kejenuhan dalam keluarga tidak berlarut-larut
1. Perbanyak Ibadah

Sumber foto: Unsplash.com
Meyakini bahwa semua yang terjadi saat ini adalah takdir yang harus dijalani sesungguhnya bisa menambah kekuatan dalam diri. Memperbanyak ibadah, baik yang wajib maupun yang sunnah tidak saja menambah daftar kegiatan positif, tetapi juga mengurangi kecemasan dan kekhawatiran. Situasi tak menentu saat ini, saat melakukan banyak hal dan banyak kegiatan terhalang, kita dituntut lebih sabar dan lapang dada. Tidak ada jalan lain selain menerima kenyataan dan mencari jalan keluar agar roda kehidupan tetap berjalan. Berhemat dan mencari celah/ kesempatan mendapatkan tambahan penghasilan, adalah cara cerdas menghadapi situasi saat ini. Tetap tegar dan terus bersabar adalah kuncinya. 
2. Variasikan Jadwal

Sumber foto: 123rf.com


Jadwal yang itu-itu saja tentu membosankan. Siapa, sih, yang tahan dengan situasi yang sama terus menerus dalam waktu yang lama? Jujur saja, kejenuhan kadang membuat seseorang tidak kreatif, tidak lagi kritis, bahkan lemah. Akan tetapi, kita tidak bisa mengubah keadaan, bukan? Yang bisa adalah mengubah cara pandang dalam menghadapinya. Seberapa kreatif kita mengkreasikan agar tetap semangat melakukan kegiatan yang sama dengan orang yang sama dalam waktu lama. Salah satunya adalah membuat variasi jadwal. Ada yang ditambah, ada yang dikurangi atau dihilangkan, ada yang ganti waktu, dan ada pula yang divariasikan bentuknya. Semua bisa didiskusikan dengan anggota keluarga.
3. Tegas, tetapi Tidak Memaksa terhadap Anak

Sumber foto: Unsplash.com
Membiarkan anak lepas kendali dan tidak ada keteraturan dalam beraktivitas akan membuat anak terbiasa tidak disiplin. Jangan katakan berat. Memang tidak mudah membiasakan anak dengan rutinitas baru. Tidak sekolah bukan berarti bisa semaunya sepanjang waktu. Jangan dikira setelah menyetorkan tugas online, mereka bisa leluasa bermain tanpa kenal waktu. Big no! Kalau itu terjadi, siap-siap saja. Kita akan memiliki generasi pemalas dan berdaya juang rendah. Tak perlu memaksa melakukan ini itu dengan cara begini begitu dalam waktu sekian-sekian. Ah … kita akan lelah. Cukup tegas, membuat rambu-rambu, memberi peringatan bila melanggar, dan hukuman yang tidak memberatkan bila pelanggaran berulang

Baca juga:

6 Trik Mudah Agar Anak Tidak Malas Belajar

4. Ajarkan Anak Mandiri Mengerjakan Tugas Online

Sumber foto: Unsplash.com


Tugas online yang rutin harus dikerjakan setiap hari seharusnya membuat anak tidak saja belajar mandiri, tetapi juga disiplin dan jujur. Hasil yang dicapai setiap harinya dalam pembelajaran online sebaiknya merupakan hasil kerja keras anak. Dengan demikian, baik orang tua maupun pihak sekolah dapat dengan mudah memantau perkembangan belajar anak. Nah … apa jadinya bila tiap hari anak dibantu ayah atau ibunya menyetorkan tugas? Yang jelas, tugas orang tua, biasanya ibu, jadi bertambah, kan? Waktu yang seharusnya bisa dimanfaatkan untuk tugas atau rutinitas ibu jadi terpangkas karena harus membantu anak mengerjakan tugas online. Berbeda jika orang tua cukup mengoreksi saja. Waktu yang dialokasikan untuk membantu anak tentu jauh berkurang, terlebih bila ada lebih dari satu anak yang dibantu.

Baca juga:

8 Tips Mudah Melatih Kemandirian Anak

5. Cari Kegiatan yang Baik dan Bermanfaat di Rumah Sebanyak-banyaknya


Sumber foto: 123rf.com



Daripada menyesali keadaan, lebih baik berpikir lebih keras bagaimana caranya bisa produktif. Syukur seandainya bisa memanfaatkan waktu di rumah untuk menambah penghasilan. Bila tidak, bisa melakukan hal-hal positif lain, baik bersama suami, anak, atau sendiri saja. Banyak kegiatan yang bisa dipilih, misalnya menata ulang perabot rumah, mendesain ulang kamar tidur, berkebun, beternak, menyulam, menulis, membaca, menklipping koran/majalah, membuat kue, mencoba resep-resep masakan baru, atau apa saja yang positif. Yang pasti, jangan biarkan tubuh mager alias malas gerak. 
6. Luangkan Sedikit Waktu untuk Me Time

Sumber foto: 123rf.com

Kesibukan yang bertambah sebulan terakhir karena anjuran bekerja dan belajar di rumah saja membuat ibu perlu meluangkan waktu sekedar untuk menyegarkan pikiran. Jangan pikirkan me time ke gunung, ke pantai, ke mal, atau pergi ke mana saja untuk mendapatkan situasi yang berbeda. Sekadar membaca buku favorit, menulis artikel, menulis diary, makan makanan kegemaran, atau sesaat menyapa teman di grup WA, adalah aktivitas sekilas yang bisa menjadi refreshing. Tentu dengan tetap memperhatikan kewajiban sebagai ibu rumah tangga. Aktivitas yang monoton memang rentan mendatangkan stress. Sedangkan menjaga kewarasan agar tetap sehat lahir batin adalah keharusan bagi para ibu. 
7. Seimbangkan Antara Makan, Istirahat, dan Menemani Keluarga

Sumber foto: 123rf.com
Aktivitas yang terlalu padat kerap mengakibatkan kejenuhan yang berdampak buruk bagi kesehatan jiwa. Terlebih lagi, bila tidak diimbangi dengan makan dan istirahat yang cukup. Lelah lahir batin yang mendera bisa berimbas pada hubungan keluarga, baik dengan suami maupun dengan anak. Oleh karena itu, tubuh harus cukup makan dan istirahat agar bisa kerja keras lebih lama dengan hasil optimal.
8. Tentukan Skala Prioritas

Sumber foto: 123rf.com

Bertumpuknya tugas harian terus menerus membuat kita kadang bingung memilih mana yang penting dan mana yang kurang penting. Apa jadinya bila keadaan ini berlangsung lama? Bisa jadi malah aktivitas yang penting tidak terselesaikan dengan baik. Memilah dan memilih agar sesuai dengan kebutuhan pada akhirnya akan membuat kita lebih rileks. Hal ini karena kita lebih bisa memperhitungkan kemampuan dengan banyaknya tugas yang harus segera diselesaikan.
9. Perkuat Ikatan Batin Antaranggota Keluarga

Dok. Pri

Karena setiap hari berjumpa dan  berinteraksi hampir sepanjang waktu, potensi konflik menjadi lebih tinggi. Terkadang, masing-masing ingin menjalankan keinginannya sendiri. Bahkan, tidak jarang mengedepankan ego. Ibu harus bisa menjadi yang terdepan mendamaikan situasi. Bila ada kesalahpahaman, bijak mengambil sikap. Bila ada perseteruan, sigap menentukan jalan keluar terbaik. Kebersamaan seharusnya menjadi cara terbaik saling memahami karakter masing-masing anggota keluarga.
10. Jalin Lebih Erat Hubungan Pertemanan

Sumber foto: 123rf.com

Saat masa sulit bertemu sekarang ini, menjalin hubungan pertemanan menjadi hal penting yang harus diperhatikan. Saling menguatkan, saling bertukar info, dan saling menolong bila ada teman yang kesulitan adalah hal positif yang sayang bila dilewatkan. Masa karantina bukan berarti mengurung diri dan menjauh dari lingkungan. Tetap aktif di dunia maya bisa membuat hari-hari kita tidak sepi dan lebih semangat.
Nah, itulah yang bisa dilakukan untuk menjaga agar kejenuhan bekerja dan belajar di rumah  tidak berlarut-larut. Jangan biarkan sikap pesimis dan malas menguasai pikiran. Melakukan aktivitas yang bermanfaat juga bisa di rumah saja, kan? Yang penting, kita tetap waspada. Apakah Anda juga mempunyai cara bagaimana agar kejenuhan dalam keluarga tidak berlarut-larut? Ceritakan di kolom komentar, ya ….
0 Shares:
44 comments
  1. Mbak Dian warga surabaya juga yah. Wah senangnya banyak blogger senior yang satu kota denganku. hehehe. Menjelang PSBB tadi saja banyak sekali pembeli di salah satu supermarket yang antri beli bahan kebutuhan pokok. Duh, seperti mencekam saja padahal ga gitu2 banget ya mbak. yang penting Bismillah saja

  2. Kalau saya lebih banyak di dapurnya mbak, belajar masak. Soalnya saat hari kerja kalau masak seadanya. Yang penting nasinya ada, lauknya kadang beli.Saat stay at home ini, saya jadi punya banyak waktu untuk memasak… .

  3. Ini nih mba yang susah buat aku adalah me time. Sejak pandemi daycare jadi libur, jadi yang biasanya ada yg bantuin urusin si kecil jadi ngga ada lagi. Kerjaan di rumah menumpuk, suami kerja sebagai Garda terdepan di RS. Yah begitulah, kalau dipikir jadi stres sendiri haha. Untung ngga dipikirin sih. Harus bahagia terus. Mudah-mudahan pandemi segera berakhir, bisa aktivitas di luar seperti biasa. Aamiin

  4. Aamiin. Semoga ya … Me time nggak bisa? Saya dulu juga.Saya juga kesulitan curi waktu buat me time. Tapi saya turunkan standar me time. Nggak harus gmn2. Yg penting ada waktu buat diri sendiri. Berkomunikasilah dengan suami. Mintalah waktu untuk me time yg realistis agar otak dan batin segar selalu.

  5. Memang sich pasti akan jenuh juga dirumah dengan aktivitas yang monoton itu2 saja.. tapi dengan 10 tips yang sudah diberikan harusnya mampu mengurangi kebosanan tadi dan tetap beraktivitas dari rumah… semoga Pandemi ini segera berakhir πŸ™πŸ™

  6. Ditengah social distancing ini memang membuat kita mudah sekali diserang oleh stress atau kejenuhan. Imbasnya nanti jga ke sistem imun. Semoga setelah terapin 10 tips ini bisa menjadikan lebih semangat lagi dan ga gampang bosan

  7. Sebenarnya banyak anak yang mandiri mengerjakan tugas online nya, cuma terkadang karena di rumah rasa manja si anak, plus geregetan si umma yang gemes gak selesai-selesai, menghasilkan kerjasama yang baik hihihi

  8. setidaknya kita patuhi ya himbauan pemerintah untuk di rumah saja lebih dulu supaya pandemi ini cepat berlalu. Dan benar sebaiknya membuat kegiatan yg kreatif supaya tidak cepat jenuh. semangat ya mbak

  9. Ditengah maraknya wabah covid 19 ini dan kita harus tetap stay At Home itu membuat bosan karena kegiatan tiap harinya itu2 ajah Tapi itu semua akan teratasi setelah membaca 10 tips tersebut diatas

  10. Surabaya-nya dimana mba? Saya di Rungkut. Ini tetangga saya yg rumahnya persis di belakang rumah saya lagi isolasi mandiri karena statusnya naik jadi PDP, padahal udah sepuh. Kasihan banget. Kami bantu menyediakan kebutuhannya selama 14 hari ke depan. Semoga beliau cepat sembuh.

  11. Saya sebagai pekerja shift hanya menyimak saja. Sempat timbul kejenuhan juga siih. Pingin spti teman2 yg WFH. Apa boleh buat yaa. Namanya kerja di RS. Haha. Meski tambah tugas dg menemani anak bljr online, tapi tetap harus bekerja. Dan semua harus jalan.

  12. Bisa dibilang, aku sama sekali nggak jenuh berada di rumah, hehehe … Kan sebenarnya nggak total di dalam rumah terus. Selama masa karantina ini, seminggu sekali aku pergi ke warung sayur di ujung jalan, jaraknya kira-kira 100 meter dari rumah. Sambil jalan kaki, masih bisa lihat sana-sini. Aku juga sudah 3x pergi ke supermarket untuk belanja bulanan.

    Di rumah pun banyak banget yang dikerjakan karena aku bekerja dari rumah. Jadi, memang nggak ada porsi untuk jenuh. Kalau capek, iya banget, hihihi …

  13. Awalnya sulit sih ya untuk menerima di rumah aja, tapi kemudian sekarang udah mulai terbiasa justru pengen cepet di rumah lagi karena tempat teraman dan ternyaman saat ini

  14. Sehari setelah pengumuman akan diberlakukan PSBB, masya Allah masyarakat berbondong-bondong belanja bahan makanan, seakan di rumah saja kerjanya hanya akan makan terus, padahal tidak harus begitulah. Andai mereka itu membaca artikel ini, pastinya tidak akan bersikap demikian. Banyak kok kegiatan yang bisa dilakukan agar tidak jenuh dan makan melulu.

  15. Aku kalau jenuhnya itu enggak, Mbak, karena kerjaanku buanyak banget. Cuma jadi nggak punya waktu sendiri. Biasanya setiap hari kan ada 3-4 jam sendiri di rumah. Nah momen itu yang hilang jadi kayak ada yang kurang gitu.

  16. Anakku yang SD kelas 3 sih bisa mengerjakan tugas dengan rutin tapi yang masih TK enggak bisa, hehehe. Untung aja gurunya sabar meskipun enggak mengumpulkan tugas juga gak papa, namanya juga anak-anak ya

  17. intinya pintar-pintar kita ya mba agar betah ketika lockdown begini. makasih tips-tipsnya jadi tahu nih kegiatan apa lagi yang harus dilakukan biar tetap happy meski di rumah aja.

  18. Nah menyeimbangkan hidup dan menentukan skala prioritas tuh emang penting banget mba. Selama di rumah rasanya semua hal kok jadi penting ya.. jadi harus diselesaiin semua .itu yg sering bikin kita uring-uringan heheh .. eh itu saya doang ya?

    Intinya sih harus tetep optimis, bersyukur dan produktif dari rumah ya…

  19. Pandemik ini membuat kita mau tidak mau dan suka tidak suka harus berada di dalam rumah. Jika dipikir-pikir, tentu saja akan sangat menjemukan. Namun, tak ada gunanya menggerutu atau menyesali apa yang terjadi. Lebih baik kita mencari cara agar waktu-watktu diam di rumah dapat terisi dengan baik. Alhamdulillah, beberapa tips di atas sudah kami jalankan juga di rumah.

  20. Masha Allah, awal april kemarin Yuni WFH selama 2 minggu. MashaAllah jenuhnya kerasa banget.

    Tapi tetap harus disyukuri sih. Karena nggak semua orang bisa merasakannya.

    Memang sih, kita harus pintar-pintar menyiasati waktu. Agar nggak bosan. Semua hal yang dilakukan di atas bisa banget jadi rekomendasi.

    Terlebih kita memang kudu memperbanyak ibadah. Mengingat sekarang bulan Ramadhan. Bukan berarti kalau nggak Ramadhan jadi nggak banyak ibadah sih. Hehehe

  21. Aku kalau lagi jenuh slain ibadah ya nonton drakor mba. Buat aku itu hiburan banget wkwkwk πŸ˜‚. Apalagi akhir minggu, itu adalah 2 hari yang ku tunggu. Karena bisa me time dengan ngedrakor sambil makan mie rebus hahaha. Bahagia emak itu sederhana ya

  22. Kalo bicara jenuh, udah ga tau lagi gimana cara mengungkapkannya ya, mbak. Semoga wabah ini segera berakhir. Terimakasih tipsnya, mbak. Semoga kita tetap istiqomah menjaga kesehatan diri dan lingkungan terdekat. Aamiin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like
Read More

Melepas Asa

Aku sudah sampai di depan kamar Winda. Beberapa menit yang lalu, Tante Hesti, Mama Winda, meneleponku dengan panik…