Melepas Asa

Aku sudah sampai di depan kamar Winda. Beberapa menit yang lalu, Tante Hesti, Mama Winda, meneleponku dengan panik karena Winda mengunci diri di kamar sejak pagi. Ah, pantas saja aku tidak melihatnya di rumah. Tidak seperti biasanya.
Besok adalah hari pernikahanku. Hampir semua keluarga besar Mama dan Papa menginap di rumahku sejak dua hari lalu. Sebagai anak tunggal, kedua orang tuaku menginginkan pesta pernikahan yang mewah untukku. Dharma, calon suamiku, adalah anak sulung dari partner bisnis Papa. 
Mama memercayakan semua urusan pesta kepada Winda. Sebagai wedding organizer, perempuan manis berlesung pipit itu merancang pestaku dengan sangat baik. Bahkan, dialah yang memilihkan semua keperluan pestaku, seperti gaun pengantin, desain dekorasi, katering, hingga sovenir. Hampir setiap hari selama dua minggu ini Winda selalu ke rumahku. Itulah sebabnya, aku merasa sangat kehilangan karena sejak pagi Winda tak tampak batang hidungnya.
“Win … buka pintunya,” pintaku lirih.
Tante Hesti kulihat makin panik karena aku belum berhasil membuatnya membuka pintu kamar. 
“Kamu kenapa, sih, Win. Kasihan Mama kamu tuh …. buka, yuk. Kita selesaikan masalah kamu sama-sama. Buka, Winda …,” pintaku lembut. Aku makin penasaran. Sebenarnya ada apa dengan Winda?
Tiba-tiba pintu dibuka Winda.
“Alhamdulillaah … akhirnya kamu mau buka pintu,” ucapku bahagia.
Aku tidak menyangka wajah kusut Winda bisa seperti itu. Matanya sembap, sisa tangis yang tak sebentar. Rambut hitam yang biasanya tergerai indah bervolume, kini acak-acakan tak karuan. Aku menjajarinya duduk di tempat tidur.
“Katakan padaku, Winda. Kenapa kamu bisa begini? Besok, kan, hari pernikahanku? Seharusnya kamu ada di rumahku, kan? Biasanya kalau ada masalah kamu selalu cerita sama aku,” ucapku lirih sambil meraih pundaknya. Aku mencoba membuatnya tenang. 
“Aku sedih, Riz …,” isaknya, Kukira aku bisa ikhlas melepasnya. Ternyata aku tidak sanggup.”
“Melepas siapa, Win?” tanyaku penuh selidik. Aku melihat gurat pilu di wajahnya. Sungguh Winda tidak main-main. Dia benar-benar merasa kehilangan seseorang. Tapi siapa?
Winda menggeleng-gelengkan kepala sambil terus menangis. Aku makin penasaran. Selama ini, sahabatku sejak SMA ini selalu menceritakan banyak hal kepadaku.  Tentang keluarganya, tentang teman-teman kuliahnya, tentang dunia jurnalistik yang teramat digemarinya, dan tentang apa saja. Kecuali satu hal, yaitu tentang siapa calon suaminya. Dia selalu tertutup tentang hal yang satu ini.
“Calon suamiku, Rizka. Dia akan menikah dengan perempuan lain. Kemarin-kemarin aku ikhlaskan dia dijodohkan. Tapi hari ini … aku merasa sangat kehilangan. Ternyata aku nggak sanggup kehilangan dia,” tangis Winda makin  pecah. Aku pun makin mendekat menenangkannya.
“Ya Allah, Win. Segitu mudahnya dia ninggalin kamu? Kenapa dia nggak jujur aja, sih, ke orang tuanya kalau dia sudah punya kamu?” tukasku geram. Winda hanya menggeleng sambil mengusap air matanya. Hidungnya mampet.
“Bentar, ya, Riz … aku mau ke kamar mandi,” ucap Winda seraya beringsut meninggalkanku.
Aku memutar otak, kepada siapa aku bertanya tentang siapa kekasih Winda? Apa kepada Mamanya? Ah, tidak. Winda pernah mengatakan kurang suka curhat kepada mamanya. Atau kepada Mas Dharma? Yups, betul. Mas Dharma, kan, teman kuliah Winda. Aku tidak terpikir menanyakan soal ini kepadanya. Mas Dharma mungkin tahu siapa calon suami Winda.
Kuambil ponsel di tasku. Sebelum sempat menelepon, kudengar ponsel Winda berdering. Ternyata ponsel Winda tepat di sebelahku. Kubaca nama di layar, ada tulisan “Calon Imamku.” Ini pasti dari calon suami Winda. Siapa dia, sih? Teganya berbuat seperti itu pada Winda? Atau dia terpaksa?
Ponsel Winda berdering hingga tiga kali. Aku tergerak mengangkatnya karena Winda tak kunjung kembali ke kamar. Jantungku berdebar. Dengan ragu, kuangkat ponsel Winda. Kugeser gambar gagang telepon ke kanan. Kuletakkan di telingaku.
“Hai, Win. Ini kamu? Ah, syukurlah. Kenapa nggak angkat telponku sejak kemarin? WA-ku juga nggak kamu balas. Kamu kenapa? Kan sudah aku bilang, pernikahan ini cuma sementara. Papa Rizka akan menggelontorkan banyak dana buat perusahaan ayahku. Setelah selesai, selesai juga pernikahanku. Cintaku buat kamu, Win. Bukan buat Rizka. Sabar, ya ….”
Suara di sana … ternyata suara Mas Dharma! Tanganku gemetar. Pandanganku kabur. Tiba-tiba kakiku lemas dan tak bertenaga. Dadaku bergemuruh kencang. Seketika aku ingin melepas asaku pergi. Asa yang kubangun dengan cinta dan kepercayaan. Aku sungguh tak menduga, hal ini terkuak sehari sebelum akad nikahku. Begitu terluka batinku, hingga akhirnya … bruk!
Semua jadi gulita. Seperti jalan hidupku. Seperti kisah cintaku.
0 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

You May Also Like