Serunya Menjadi Editor Pada Masa Pandemi

  

Hai, Sobat Pembaca

Assalaamu’alaikum

Adakah di antara kalian yang mulai tidak bersemangat menjalani hari-hari pada masa pandemi Covid-19 sekarang ini? Hmmm … pasti ada, ya! Sembilan bulan terakhir ini kita memang mengalami hari-hari yang tidak biasa. Bekerja dari rumah, sekolah dari rumah, dan melakukan banyak kegiatan lain dari rumah saja. Bagi Anda yang terbiasa menjalani pekerjaan dengan model seperti ini, seperti penjual online misalnya, tentu tidak terkejut dengan perubahan tata cara menjalani aktivitas harian. Namun, bagi Anda yang harus beraktivitas di luar rumah, seperti bertemu dengan banyak orang dan harus dapat berinteraksi dengan orang lain, karena situasi yang serba sulit sekarang ini sedikit banyak pasti mengganggu.


Situasi pandemi memang menuntut banyak pihak untuk memanfaatkan peluang. Bukankah roda kehidupan terus berputar? Perut harus diisi, sekolah harus jalan terus dan aktivitas mengais rezeki tetap harus dilakukan. Ya… tidak ada jalan lain! Kita harus berkompromi dengan keadaan dan menerima kenyataan bahwa dalam kondisi pandemi ini harus berupaya lebih keras menjemput rezeki. Kecuali Anda berpangku tangan saja, menyesali keadaan dan meratapi nasib. Siap-siap saja Anda terlindas zaman! Anda akan rugi dan kelak akan menyesal karena tidak peduli dengan peningkatan kualitas diri dan tidak cermat memanfaatkan peluang.


Tetap Berpenghasilan Pada Masa Pandemi

Bersyukurlah Anda masih tetap bekerja seperti biasa, tetap beraktivitas lancar dan tetap berpenghasilan dari pekerjaan tetap. Namun, bila perusahaan tempat Anda bekerja terdampak pandemi dan menyebabkan penghasilan menurun, bahkan PHK, Anda harus segera mengambil langkah cepat menyelamatkan diri dan keluarga agar tetap bertahan hidup. Saat inilah kreativitas dan kesungguhan Anda diuji. Ketahanan Anda menghadapi situasi sulit dapat dibuktikan saat terdesak sekarang ini. 

Sebenarnya, kalau kita jeli, ada kemauan dan tidak gengsi, apalagi malu, kita bisa memanfaatkan segala potensi yang ada di diri kita masing-masing. Kita bisa berpenghasilan dari aktivitas berikut ini.

1. Berjualan Online


Banyak yang sukses berpenghasilan dari aktivitas yang satu ini. Tua muda, laki-laki perempuan, yang ingin mencoba, pasti bisa mendapatkan banyak keuntungan dari berjualan online. Anda bahkan tidak harus memiliki modal atau produk sendiri.Dengan komunitas dan mengikuti kelas gratis atau berbayar tentang strategi berjualan online, bisa membuat Anda terampil dan meraih sukses. Anda bisa memilih menjadi reseller atau dropshipper bila tidak cukup modal untuk memulai bisnis. Anda hanya perlu kuota dan jaringan pertemanan yang baik, juga ilmu berjualan yang dapat diperoleh dengan mudah di dunia maya atau buku-buku pemasaran.Asal mau berusaha dan tidak malu atau gengsi, sukses berjualan online segera dalam genggaman.

2. Memberi Les Privat Pelajaran Sekolah

Les privat atau bimbingan belajar masih diburu, meskipun masa pandemi. Sebagian sudah menjalankannya dari rumah ke rumah dengan memerhatikan protokol kesehatan, sebagian lagi mejalankan secara online. Jangan dikira orang tua tidak membutuhkan guru les privat! Bagi orang tua sibuk yang kurang bisa menghabiskan banyak waktu untuk menemani anak belajar, menyerahkan anak kepada guru les privat adalah salah satu pilihan solusi. Anda yang memiliki kemampuan mengajar dan menguasai salah satu bidang ilmu jangan melewatkan peluang berpenghasilan di jalur ini. Bila ditekuni secara serius, Anda bisa meraup banyak rupiah dari pekerjaan yang satu ini.


3. Memanfaatkan Hobi


Yang paling menyenangkan adalah saat kita bisa berpenghasilan dari hobi. Bayangkan saja… menikmati hobi, kemudian dibayar. Pasti asyik, kan? Banyak yang mengambil peluang ini untuk menambah penghasilan. Mulai dari hobi bercocok tanam di lahan sempit, hobi merawat hewan peliharaan, hobi menggambar, hobi memasak, hobi otak-atik motor dan barang-barang elektronik, hingga hobi menyanyi dan hobi menulis. Sedikit saja Anda meningkatkan skill, lalu bergabung dengan komunitas penggemar hobi yang sama, Anda bisa memiliki wawasan yang lebih luas sekaligus membidik konsumen untuk bertransaksi. Tidak sulit, kan? Hanya dibutuhkan kemauan tinggi untuk belajar, meluaskan jaringan pertemanan, gigih, ulet dan pantang menyerah maka kesuksesan akan dengan mudah diraih.

Berpenghasilan dengan Menulis

Jauh sebelum pandemi melanda negeri, banyak yang sudah mengambil peluang berpenghasilan dengan menulis. Hanya bermodalkan laptop atau Smartphone saja, Anda bisa duduk manis mencari ide dan menuangkannya dalam tulisan. Saya pingin, tapi kok kayaknya sulit ya jadi penulis? Hmmm… siapa bilang? Seperti mengayuh sepeda, perlu dilatih dan dibiasakan. Demikian juga menulis. Para penulis terkenal juga mengawalinya dengan berlatih dan membiasakan diri menuangkan isi pikiran dalam tulisan. Mereka pada umumnya membuat target membaca, memiliki jam wajib menulis, tidak berhenti saat ide tidak lancar dan yang terpenting … berkumpul dengan para penggemar literasi untuk meluaskan wawasan. Sudahkah kita melakukan hal-hal itu? Kalau belum, coba, yuk …. Beberapa waktu ke depan, kita akan merasakan manfaatnya.

Training kepenulisan juga sudah menjamur dewasa ini. Banyak training yang digelar secara online. Nah… tidak ada alasan lagi untuk menyatakan bahwa menulis itu sulit, kan? Jangan bilang menulis itu soal bakat. Menurut saya, menulis itu soal kemauan dan kegigihan berusaha. Bila diniatkan untuk kebaikan, saya yakin jari dan otak kita akan bersinergi mendapatkan kemudahan dari Allah untuk menata kata demi kata menjadi kalimat yang bermakna. Jangan takut dicela. Menulislah saja dulu. Setiap tulisan pasti menemukan pembacanya. Lama kelamaan, kita akan mudah menuangkan ide karena telah terbiasa dan tidak ragu, apalagi malu. 

Kalau sudah berkemauan kuat, pilihlah beberapa profesi penulis yang kini banyak ditawarkan. Mulai penulis novel, penulis artikel di web online, ghost writer (menulis untuk orang lain), copy writer, influencer, blogger, penulis skenario, atau editor. Semua pilihan profesi penulis itu bisa dilakukan hanya di rumah saja. Semua bisa dilakukan hanya dengan memanfaatkan internet saja. 

Baca juga:

Cara Menjadi Penulis Artikel dan Peluangnya

6 Cara Agar Rajin Menulis di Blog

Serunya Menjadi Editor Saat Pandemi

Boleh percaya boleh tidak, saat sudah terjun sangat jauh di dunia kepenulisan, saya menikmati pilihan-pilihan profesi menulis seperti yang sudah saya tuliskan di atas. Berawal dari belajar konsisten menulis selama 30 hari di salah satu komunitas menulis di Facebook, saya langsung ketagihan menulis artikel dan mengirimkannya ke berbagai media. Awalnya memang bermodal nekad. Bagaimana tidak? Meskipun dunia literasi tidak asing bagi saya yang sudah mulai menulis sejak duduk di bangku SMA, jeda waktu yang sangat lama membuat saya berlatih lagi. Tantangan yang konsisten menulis selama 30 hari menjadi langkah awal saya menekuni dunia ini lebih jauh. 


Bersyukur karena dalam waktu kurang dari tiga bulan, sejak selesainya tantangan yang konsisten menulis 30 hari itu, beberapa tulisan saya ada tayang di Takaitu dan Estrilook. Jujur, saat itu saya agak lebay, saking bahagianya, saya langsung membagikan tulisan saya yang dimuat itu di akun Facebook dan Twitter saya. Niat saya selain sebagai tanda syukur dan penyemangat, juga agar tulisan saya bermanfaat bagi banyak orang.

Boleh percaya boleh tidak pula, training pertama yang saya ikuti di dunia kepenulisan justru bukan training menulis, tetapi TRAINING EDITOR. Sebagian orang mungkin mengira langkah saya ini keliru, tetapi saya tidak menganggapnya demikian. Saat itu saya beranggapan bahwa belajar menulis bisa dengan rajin berlatih dan rajin membaca, tetapi belajar mengedit tulisan perlu ilmu khusus yang harus dipelajari serius dari beberapa mentor. Alhamdulillah, saya sudah mengikuti training editor di beberapa tempat, yaitu di Joeragan Artikel, KPE (Kelas Pena Editor) dan KMO. Berbekal materi training-training editor online yang saya ikuti, saya lebih memiliki bekal untuk menulis. Saya tidak ragu menerima pekerjaan yang ditulis sebagai penulis artikel,  blogger dan terutama editor

Khusus aktivitas saya sebagai blogger, berawal dari pelatihan blogger yang diadakan di Joeragan Artikel, kemudian saya membeli domain ke Sahabat Hosting , tempat ratusan blogger memercayakan blog mereka. Sahabat Hosting menjual Hosting Murah  dan kini menjadi tempat lebih dari 500 domain yang dihostingkan ke servernya. Sayang, aktivitas saya sebagai editor akhir-akhir ini membuat saya kurang aktif menulis di blog. Pekerjaan mengalir yang cukup deras selama pandemi ini adalah berkah tak terkira yang tidak pernah saya duga sebelumnya. Saya berpikir bahwa berkah ini harus disyukuri sehingga saya tidak menolak, meskipun kadang penawaran datangnya bertubi-tubi.   


Bagaimana Menjadi Editor yang Baik?

Apa manfaatnya menjadi editor? Bukankah lebih nyaman dan menyenangkan  menulis? Yup, betul! Menulis memang menyenangkan. Tidak saja untuk terapi jiwa, menulis bisa mengasah kemampuan berpikir dan mengembangkan daya nalar sehingga kita terbiasa berpikir urut dan logis. Namun, bagi saya, mengedit berlipat-lipat kali lebih menyenangkan. Mengedit ibarat bertamasya mengarungi tulisan-tulisan yang membuat saya tahu lebih banyak karakter penulis, gaya bahasa dan gaya menulis serta memasukkan pikiran penulis ke pikiran saya dengan memahami kata per kata dalam tulisan.


Menurut saya, untuk menjadi editor yang baik, perlu melakukan hal-hal berikut ini.

1. Banyak Membaca

Untuk mengasah keahlian, kita harus mengembangkan penglihatan untuk tata bahasa, tanda baca dan kalimat yang baik, juga perasaan mengenai bagaimana sebuah tulisan bisa mengalir dengan baik. Membaca buku apa saja, terutama buku berkualitas, akan membantu kita meningkatkan kemampuan dan kepekaan kita sehingga menjadi lebih tajam.

2. Rajin Menulis




Jangan dikira menjadi editor tidak perlu rajin menulis. Bagaimana bisa menyelami maksud penulis bila editor tidak bisa menulis? Ibaratnya begini. Untuk bisa memimpin sebuah rumah sakit, seorang direktur rumah sakit haruslah seorang dokter. Pemimpin perusahaan otomotif juga harus seorang ahli di bidang otomotif agar segala hal yang berkaitan dengan perusahaan dapat dikuasai dengan baik. Demikian pula pemimpin sebuah perusahaan penyedia hosting, seperti Sahabat Hosting, adalah seorang yang sangat ahli di bidangnya. Seperti demikian perumpamaannya. 


Seorang editor harus rajin menulis agar terbiasa dengan pola kalimat, susunan kata dan membentuk bahasa sehingga bisa memahami cara mewujudkan kesinambungan dalam tulisan yang dieditnya.

3. Rajin Mempelajari Kosa Kata

Seorang editor harus rajin belajar kosa kata terus menerus agar mampu menemukan arti baru dari kata dan melihat dunia dengan cara yang berbeda. Kosa kata adalah bagian penting dalam mempelajari cara membaca dengan benar dan tajam. Artinya, editor harus mampu mengarahkan penulis agar memilih kata yang tepat sehingga bisa membuat tulisan menjadi logis dan nyaman dibaca.

4. Akrab dengan KBBI dan PUEBI

Seorang editor harus akrab dengan KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) dan PUEBI (Panduan Umum Ejaan Bahasa Indonesia). KBBI adalah tempat menemukan kata-kata baku untuk digunakan dalam tulisan, sedangkan PUEBI adalah tata cara menulis agar sebuah tulisan sesuai dengan kaidah, seperti bagaimana penggunaan tanda baca yang benar, bagaimana cara tepat memakai huruf kapital dan sebagainya. Ibaratnya, dua hal itu adalah senjata dan panduan untuk menemukan di titik mana sebuah tulisan dibenahi. Kesesuaian tulisan dengan kaidah penulisan adalah hal penting yang harus dijaga editor. 

Menerima Pekerjaan Mengedit dari Internet


Oleh karena memiliki keinginan kuat untuk menjadi editor yang baik, saya berusaha semaksimal mungkin melakukan keempat hal di atas. Tidak mudah memang. Perlu waktu yang panjang dan stamina yang prima agar bisa duduk berlama-lama di depan layar Laptop atau Smartphone untuk bisa teliti mengamati sebuah tulisan. Apalagi jika penerbit ingin cepat-cepat menerbitkan sebuah buku. Saya harus mengatur jadwal sedemikian rupa agar  tugas inti sebagai ibu rumah tangga tetap berjalan seperti biasa. 


Serunya, saya mendapatkan pekerjaan editing hanya dari internet saja! Menerima pekerjaan, mengedit dan menyerahkan hasil editan, semua dilakukan secara online. Bagaimana saya tidak bersyukur? Begitu banyak editor di dunia maya, bahkan yang lebih senior dari saya tidak sedikit. Namun, penerbit memilih saya megedit calon buku yang akan diterbitkan. Sungguh di luar nalar saya. Tidak mungkin mereka tergerak memilih saya bila tanpa campur tangan Allah. Allahlah yang menetapkan saya terpilih di antara editor lain yang tentu lebih baik dari saya. Oleh karena itu, sebagai bentuk rasa syukur, saya selalu menjalankan tugas dengan baik dan tepat waktu saat mengirimkan hasil editan demi menjaga kepercayaan penerbit kepada saya.


Saya selalu berusaha berhati-hati dalam menjalankan tugas agar hasil editan saya tidak mengecewakan penerbit dan penulis. Saya juga tidak berhenti berusaha meningkatkan kemampuan saya dengan membaca bagaimana cara mengedit yang baik dan terus mengikuti tata cara mengedit yang sering mengalami perubahan. Masa pandemi tidak menyurutkan niat saya lebih gencar berlatih karena belajarnya tidak perlu ke mana-mana, cukup dari internet saja .

Bagi Anda yang ingin berkecimpung di dunia editing naskah, mulailah dengan membaca, konsisten menulis dan belajar mengedit pada ahlinya. Jangan ragu bergabung dengan komunitas, baik komunitas penulis maupun komunitas editor. Dalam komunitas itu, kita akan mendapatkan ilmu dan pengalaman baru yang kadang tidak terduga. Bergabung dengan komunitas membuat kita tidak menjadi penulis atau editor yang eksklusif, yang menutup mata dari fenomena zaman dan perubahan atau perkembangan ilmu pengetahuan. Informasi penting dalam komunitas adalah bekal untuk meningkatkan kualitas diri.  

Demikian serunya menjadi editor pada masa pandemi. Kesibukan dengan naskah-naskah ampuh membunuh rasa jenuh karena harus di rumah saja. Apa pun pilihan aktivitas kita, bila dilakukan dengan hati maka akan ringan menjalankannya dan besar manfaatnya bagi kita dan banyak orang. Jangan melulu berpikir soal fee yang akan diterima. Akan tetapi, bekerja sebaik mungkin sesuai dengan kode etik, menjaga amanah sepenuh jiwa dan diniatkan untuk kebaikan, jauh lebih penting dan harus dijaga. Jauhkan keinginan dipuji, ingin dianggap “wah” dan ingin disebut hebat. Di atas langit ada langit. Banyak yang jauh lebih hebat dari kita dan karena itu kita tidak perlu menyombongkan diri “hanya” karena kita bisa mengedit tulisan.

Semoga bermanfaat.


Wassalaamu’alaikum

Dian Rahayu

Tulisan ini disertakan dalam Lomba Blog Sahabat Hosting

Sumber gambar: Freepik

0 Shares:
25 comments
  1. Banyak ya ternyata peluang di dunia kepenulisan. Sementara ini saya baru nulis di blog saja. Berharap suatu saat bisa belajar yang lainnya kepada ahlinya. Setuju banget. Semua hal tentang kepenulisan harus dimulai dari membaca. Mksh mb, untuk sharingnya..

  2. Peluang untuk berkembang selalu ada, tinggal kitanya aja yang mau memanfaatkan nya atau tidak. Contohnya penulis atau blogger, lambat laun pasti akan improve skill lainnya untuk menunjang aktivitas menulis.

    Kereeen banget udah naik level jadi editor. Gak mudah loh untuk bisa sampe ke sana. Congratulations suhu. Semoga saja saya bisa mengikuti jejaknya

  3. Alhamdulillah ya Kak Dian meskipun di masa pandemi tapi kita sebagai penulis masih tetap bisa dapat kerjaan meskipun selalu di rumah. aku juga merasakan betapa terbentunya ketika selalu di rumah namun tetap ada yang butuh jasa menulis.

  4. Iyaaaa, keren banget jadi editor. Sayang saya udah resign. Hehehe. Adik ipar saya masih kerja sebagai editor di salah satu media. Alhamdulillah gak ada bedanya mau pandemi mau enggak, rezeki ngalir terus, bisa kerja dari mana saja.

  5. ternyata gak gampang ya jadi editor. mesti belajar kosa kata dan paham kbbi juga. salut nih sama kerja keras editor karena menjadi tulang punggung karya kita. penentu bagus tidaknya di pasaran.

  6. Wahh keren kak, sudah menjadi editor . Aku masih terus belajar penulisan yang baik dan benar nih. Oh iya zaman selalu berubah dan berkembang ya setiap periode, sekarang semua serba lewat internet , tinggal dari diri sendiri mau berubah, mengikuti dan memanfaatkannya dengan baik

  7. Ada komunitasnya Mbak, biasanya di grup WA ada admin yg share job nulis. Kalo web, saya biasa nulis di Mak mood Publishing dan Estrilook.

    Sebenarnya masih banyak yg lain Mbak, ada Takaitu, Kompasiana, vira.id dan masih banyak lagi.

    Peluang menjadi editor juga saya dapat dari komunitas. Semua online, Mbak, ada Joeragan Artikel, DANDELION Publisher, dan beberapa yang lain.

  8. Saya memulai dari mengikuti training editor di Joeragan Artikel. Lalu alumninya ada grup tersendiri yang di dalamnya kadang ada tawaran ngedit.

    Kemudian personil alumni saling bertukar info dan saling ajak untuk ngedit di tempat lain. Begitu saja pengalaman saya, Mbak. Hingga akhirnya saya mengenal beberapa penerbit indie yang meminta saya mengedit bukunya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like