Liburan Di Desa: Tempat Traveling Paling Berkesan

Hai, Sobat Pembaca

Assalaamu’alaikum

Tidak sedikit tempat wisata di seluruh penjuru tanah air. Namun, Bagi kami sekeluarga yang sangat jarang melakukan perjalanan wisata, liburan di desa adalah tempat traveling paling berkesan yang selalu kami rindukan setiap libur lebaran.

 Desa dengan sejuta pesonanya sudah membius kami sekeluarga. Keinginan   untuk datang lagi dan lagi selalu ada setiap kaki menjauh dari lahan hijau penuh pesona itu. Terlebih lagi, desa yang kami kunjungi adalah desa tempat kelahiran suami saya, tempat hampir seluruh keluarga besar berkumpul. Bagi kami sekeluarga yang tinggal di kota, beberapa hari tinggal di desa adalah saat yang ditunggu. Anak-anak siap melayani segala sesuatunya sejak semula sebelum akhirnya.

Perjalanan ke desa selalu seru! Kendati hiruk pikuk kehidupan di kota yang menjadi keseharian kami memiliki banyak keindahan dan hal-hal yang menarik, keseruan tinggal di desa selalu menjadi saat yang dinanti. Mulai si sulung hingga si bungsu, senantiasa menyambut gembira karena desa adalah tempat traveling paling berkesan bagi kami sekeluarga.

3 Alasan Mengapa Berlibur ke Desa Selalu Seru

Rutinitas yang padat setiap hari tentu membuat jenuh dan penat. Sesekali memang kami refreshing  ke mal tidak jauh dari rumah. Namun, karena suami saya tidak begitu suka jalan-jalan ke mal maka jadilah pergi ke desa menjadi bagian dari rencana kepergian kami saat musim liburan tiba. Akhirnya, kami jadi terbiasa pulang ke desa menempuh perjalanan puluhan kilometer demi mendapat kan suasana desa yang menyenangkan. 

Ada 3 alasan mengapa berlibur di desa selalu seru. 

1. Bisa Melampiaskan Rindu dengan Kampung Halaman

Suami saya meninggalkan kampung halaman sejak lulus SD. Untuk melanjutkan sekolah di SMP, beliau bertolak dari Gresik menuju Surabaya mengikuti saudara yang menyekolahkannya hingga lulus kuliah. Sejak menikah dan memiliki lima anak sekarang, berlibur ke desa adalah tempat yang menyenangkan yang kerap menjadi tujuan utama. Perjalanan selalu diiringi dengan napak tilas tempat-tempat penting saat masih kanak-kanak, mulai sawah, balai desa, sekolah, masjid, hingga rumah tetangga-tetangga yang sebagian masih ada hubungan saudara. Tetangga masih ada hubungan saudara? Kok bisa? Ini yang unik. Warga desa tempat kelahiran suami memiliki kebiasaan menjodohkan anak mereka sehingga beberapa tetangga masih ada hubungan keluarga. Hanya saja, kebetulan suami saya merantau ke Surabaya dan bertemu dengan saya yang asli warga Surabaya sebagai jodohnya. 

2. Bisa Memicu Kebahagiaan

Bertemu dengan sanak saudara membuat suasana hati berbeda. Keriuhan dan kepenatan tinggal di kota seketika lenyap saat disambut keramahan penduduk desa yang hangat. Biasanya kalau kami datang, saudara-saudara langsung datang dan berkumpul. Meskipun hanya menyapa dan menanyakan kabar, kedekatan di antara kami sungguh sangat terasa. Kepedulian mereka kepada kami yang datang dari kota membuat kami merasa seperti tamu spesial. Padahal, seperti itulah cara mereka menyambut semua tamu dari jauh, selalu antusias. Keakraban langsung menjalar di dada kami sehingga membuat kami merasa saling dekat. Kedekatan itu kemudian menurun ke anak-anak kami. Dengan penyambutan yang hangat, anak-anak jadi akrab dengan saudara-saudara di desa.

3. Bisa Menghilangkan Stres

 Keakraban yang terjalin saat bertemu sanak saudara di desa dan suasana desa yang nyaman adalah penghilang stres terampuh bagi kami. Beberapa hari saja di desa cukup memantik kebahagiaan. Begitu juga dengan anak-anak yang langsung menikmati suasana desa yang sejuk dan asri. Kebahagiaan kecil semacam ini berdampak sangat besar karena bisa membuat kami semangat lagi saat harus kembali ke kota menjalankan rutinitas harian dengan segala hiruk pikuknya.

Desa Tulung: Tempat Berwisata Paling Berkesan 

 

Penasaran dengan desa tempat kami berlibur? Ini dia …. Namanya Desa Tulung. Sebuah desa di Kecamatan Kedamean Kabupaten Gresik ini memang bukan tempat tujuan wisata. Desa seluas 21.214 hektar ini tergolong padat penduduk. Total jumlah penduduk yang tercatat sebanyak 2.320 jiwa membuat desa ini tidak pernah sepi. 

 

Meski sering dilanda kekeringan, desa ini tergolong desa yang asri. Dengan mata pencaharian utama penduduknya sebagai petani, sepanjang mata memandang, sawah yang luas menghijau jadi pesona unik. Desa Tulung berbatasan dengan Desa Lampah di sebelah Utara, Desa Slempit di sebelah Selatan, Desa Glindah di sebelah Barat dan Desa Turirejo di sebelah Timur. 

Selain sebagai petani, mata pencaharian penduduk desa ini adalah buruh tani, arsitek, Pegawai Swasta, dan Pegawai Negeri Sipil. Bermacam profesi membuat desa ini semarak dengan beragam kegiatan sehingga kendati tinggal di desa, penduduk tidak terbelakang. Apalagi, desa ini sudah memiliki waduk, masjid, gedung SD, dan bermacam sarana dan prasarana penunjang kehidupan lainnya.

1. Waduk Tulung

 

 

Waduk ini adalah waduk kebanggaan penduduk desa yang sangat besar manfaatnya. Air dari waduk yang jernih ini dibagi ke seluruh penduduk desa, mulai untuk mandi, mencuci baju, menyiram tanaman, memberi makan dan minum ternak peliharaan, hingga memasak. Waduk luas ini tidak jarang mengalami kekeringan saat musim kemarau panjang datang. Saat itu terjadi, penduduk biasanya membeli air dari desa lain. Uniknya, mereka tidak mengeluh dengan keadaan ini. Kesulitan mendapatkan air menjadi hal biasa saat musim kemarau panjang tiba. Saat musim hujan pun, banjir adalah hal biasa bagi mereka. Sikap tegar inilah yang memikat hati kami. Betapa kecintaan terhadap kampung halaman  membuat mereka menerima apa pun dan bagaimana pun situasi di desa.

2. Masjid Desa yang Megah

 

Penduduk Desa Tulung yang kebanyakan beragama Islam sangat beruntung memiliki tempat ibadah yang menurut saya lumayan megah untuk ukuran di desa. Dengan desain yang mewah, masjid berkubah hijau yang teduh ini hampir tidak pernah sepi jama’ah, terutama saat hari besar keagamaan. Tua muda, besar kecil, laki-laki dan perempuan, semua tumpah ruah di sekitaran masjid turut serta hari merayakan besar keagamaan. 

 

3. SDN yang Rapi dan Megah

 

Siapa pun yang melihat SDN Tulung ini pasti memiliki pemikiran yang sama. Sebagai sekolah di kawasan desa, gedung SDN ini memiliki tampilan megah dan menawan. Setiap sudutnya rapi, bersih, dengan penataan ruang yang sangat baik. SDN yang berusia puluhan tahun ini telah melalui beberapa tahapan pembangunan hingga bangunan terlihat kokoh seperti itu. Lapangan yang luas, ruang kelas yang bersih, juga tanaman yang rindang di sana sini, membuat semua penghuninya nyaman berada di lingkungan sekolah. Di sinilah suami saya dulu bersekolah, sebelum akhirnya menuju ke Surabaya untuk melanjutkan SMP.

Di samping waduk, masjid dan gedung SDN yang memikat, hamparan sawah yang menghijau di sepanjang mata memandang merupakan pesona yang membuat kami tidak bosan bertandang ke desa ini. Belum lagi kuliner khas yang tersaji setiap kami datang, yaitu sambal geblek (sambal terasi dengan campuran potongan kacang panjang mentah), rawon kare (ayam kampung yang dibumbu kare, tetapi ditambah kluwek), dan penyet ikan (ikan yang digoreng, kemudian ditekan di atas sambal terasi). 

Baca juga:
 
 
Kebersamaan memang biasa kami lakukan di mana saja. Namun, keseruan berlibur di desa adalah kebersamaan yang terasa beda. Bertemu dengan orang-orang yang tulus dan apa adanya membuat kami belajar pentingnya hidup sederhana dan menjauhkan diri dari kepura-puraan yang tak perlu. Persaudaraan yang hangat dari penduduk desa menjadikan tempat ini tempat traveling paling berkesan yang selalu ingin kami ulangi lagi dan lagi. Sayangnya pandemi belum pergi. Libur lebaran yang lalu tidak ada acara ke desa sehingga kami hanya berkomunikasi lewat video call saja. Semoga saat liburan mendatang kami bisa mengukir kenangan kembali seperti liburan yang lalu. 
Wassalaamu’alaikum
Salam santun,
 
Dian Rahayu
Tulisan ini diikutsertakan dalam 30 Hari Tantangan Penulisan Sahabat Hosting
0 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

You May Also Like