5 Harapan Untuk Masa Depan dan Cara Meraihnya

 

Assalaamu’alaikum

Hai, Sobat Pembaca!

Apakah seseorang yang hampir memasuki usia 50 tahun masih boleh memiliki harapan untuk masa depan? Ah … pertanyaan itu pernah bergelayut manja di kepala saya. Usia yang menua membuat saya tidak lagi berpikir tentang target yang tinggi seperti saat masih usia 20-an atau 30-an dulu. Namun, sebagai seorang pembelajar dan selalu ingin menjadi lebih baik dari waktu ke waktu, harapan untuk masa depan selalu ada. Bukankah ini wajar?

Kesibukan sepanjang usia dengan beraneka tantangan telah berlalu dengan menyisakan beribu hikmah. Siapa pun kita, tentu setiap kejadian yang telah kita alami kemarin adalah bekal terbaik untuk menapaki hari kita pada masa mendatang. Demikian pula saya.

Tahap demi tahap yang telah kita tempuh sejatinya adalah cara Allah membuat kita makin dewasa dalam berpikir, tidak hanya dewasa secara fisik semata.

Sesungguhnya, selalu memiliki harapan berdampak sangat baik bagi kesehatan, baik fisik maupun psikis. Sayangnya, tidak semua orang sependapat dengan hal ini. Kadang, orang enggan berharap karena khawatir harapan itu tidak terwujud dan berujung kekecewaan. Padahal, bukankah ketika  berharap, kita tentu berusaha mewujudkannya? Tidak hanya menunggu sampai harapan itu menjadi nyata. Sebagian orang memang sering kali menyalahartikan, bahwa harapan hanya angan belaka. Sesungguhnya tidak demikian! Ketika seseorang memiliki harapan, seharusnya dia juga memiliki atau setidaknya memikirkan cara untuk membuatnya menjadi kenyataan. Menumbuhkan harapan itu penting, antara lain karena:

1. Memiliki Harapan Membuat Seseorang Melakukan Perubahan

Disadari atau tidak, ketika seseorang menumbuhkan harapan. sesungguhnya dia telah membulatkan tekad untuk melakukan perubahan dalam hidupnya dan berusaha lebih produktif. Perubahan apa yang akan dibuat, tentu setiap orang memiliki kadar kekuatan masing-masing. Yang jelas, perubahan ke arah kebaikan membuat seseorang lebih bersemangat merancang masa depan sehingga produktivitasnya pun meningkat.

2. Harapan Membuat Hidup Tidak Monoton

Bayangkan kalau kita hidup hanya seputar itu dan itu saja. Tidak ada perubahan, tidak pula ada upaya menghadirkan perubahan. Kita bisa depresi bila terus menerus dalam kondisi seperti itu. Menumbuhkan harapan membuat hidup kita tidak monoton karena kita akan selalu berusaha mencari hal-hal baru untuk meningkatkan kualitas hidup.

3. Harapan Memberi Kekuatan Saat Menghadapi Masalah

Ketika menghadapi hambatan yang menghalangi tercapainya tujuan, kita akan merasa kondisi tersebut adalah sumber stres. Apakah Anda juga begitu? Kalau saya, sih, iya. Keinginan untuk berhasil akan mendorong  munculnya emosi positif sehingga kita mendapat energi untuk mencapai tujuan itu. Adanya harapan dalam diri bisa menjadi sumber penggerak untuk melewati masa kritis dalam kehidupan kita.

5 Harapan Untuk Masa Depan

Saya orang yang selalu punya harapan tinggi dalam setiap tahap kehidupan. Tentu saya mengiringi setiap harapan itu dengan usaha dan doa yang tak pernah putus. Jangan dikira saya ini orang yang kuat menahan rasa kecewa! Ketika harapan tak tergapai, kekecewaan itu justru memberikan pelajaran berharga dalam hidup saya yang menjadikan saya lebih berhati-hati saat menumbuhkan harapan yang lain. Pelan, tetapi pasti, kekecewaan demi kekecewaan atas harapan yang sering tidak teraih itu membuat saya lebih siap dengan kekecewaan berikutnya.

Jangan heran dengan hal ini. Bagaimana mungkin tetap berharap setelah kekecewaan datang beruntun, bahkan kadang berulang? Saya meyakini ada yang keliru dengan cara saya mewujudkan harapan. Itulah sebabnya, saya tidak lelah mencari cara agar saya tidak kecewa lagi. Satu kali. dua kali, tiga kali kecewa, tetapi setelah berkali-kali, biasanya saya mendapatkan apa yang menjadi harapan saya. Akhirnya, saya mengambil benang merah, bahwa menumbuhkan harapan itu harus disertai dengan kesiapan untuk kecewa, tetapi juga harus bisa mengambil hikmah agar pada saatnya nanti semua yang kita harapkan dapat terwujud. Berikut ini adalah harapan saya untuk masa depan

 

Baca juga:

Berpikir Positif: Cara Mudah Kelola Emosi Ibu Rumah Tangga

1. Hidup Tenang Bebas Utang

Siapa yang ingin hidup merana dengan banyak utang? Saya kira tidak ada orang yang mau. Ketika sebagian orang menuruti gaya hidup dengan berutang, saya justru berusaha untuk tidak melakukannya sama sekali. Sayangnya, itu tidak mudah. Dengan sangat terpaksa, karena suatu keadaan, saya harus berutang. Harapan saya, sepuluh tahun yang akan datang saya sekeluarga benar-benar hidup tenang bebas dari utang. oleh karena itu, semaksimal mungkin saya menjaga agar tidak sampai besar pasak daripada tiang.

Menabung seharusnya menjadi aktivitas wajib setiap menerima penghasilan.

2. Dana Pendidikan Anak-anak Cukup

Adalah harapan terbesar saya, mungkin juga Anda, bisa menyekolahkan anak di tempat yang baik. Definisi baik dalam hal ini adalah sekolah yang bisa membuat anak selalu ingat Allah dan terjaga dari sifat tercela. Untuk bisa mewujudkannya, haruslah memiliki dana yang cukup agar anak bisa menempuh pendidikan dengan layak. Usaha, doa dan tawakal terus dilakukan, dengan harapan semoga kelak semua anak saya berkesempatan menempuh pendidikan di tempat yang baik sesuai standar kami.

Memiliki Pondok Pesantren Al-Qur’an

Salah satu dari sekian banyak harapan yang besar dalam hidup saya adalah memiliki pondok pesantren Al-Qur’an. Untuk mewujudkannya, saya dan suami menyiapkan anak-anak sebagai sumber daya utama pondok kami. Kelak, pondok pesantren itu akan menjadi tempat menghafal Al-Qur’an yang nyaman bagi anak dan remaja.

Memiliki Rumah yang Asri dengan Kolam Ikan dan Kebun yang Luas di Desa

Mungkin agak aneh. Terbiasa tinggal di kota, sebagian keluarga ada di kota, berpenghasilan di kota, mengapa ingin memiliki rumah di desa? Ya! Segala hiruk pikuk tinggal di kota membuat kami lelah dan jenuh. Pada akhir usia kelak, kami ingin hidup damai dan sejahtera di desa dengan kolam ikan dan kebun yang luas. Tentu nanti saat suami sudah memasuki masa pensiun.

Memiliki Tempat yang Nyaman untuk Menulis

Ini mungkin harapan sederhana! Namun, karena situasi dan kondisi, saya belum bisa memiliki tempat yang nyaman untuk menulis. Saat ini, saya mengedit naskah pesanan penerbit dan menulis untuk klien di tempat seadanya.. Kadang di ruang tamu sambil menemani anak belajar, kadang di dekat dapur sambil menanti sayur matang, tidak jarang di kamar tidur menemani si bungsu tidur. Semoga kelak saya memiliki tempat yang nyaman di dalam rumah, yang membuat saya betah berlama-lama merangkai aksara di depan laptop.

 

Demikian lima harapan saya untuk masa depan dan cara meraihnya. Semoga Allah mengabulkan harapan saya.  Aamiin.

 

Wassalaamu’alaikum

 

Salam santun,

Dian Rahayu

 

Tulisan ini diikutsertakan dalam 30 Days Writing Challenge Sahabat Hosting

 

0 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

You May Also Like
Read More

Melepas Asa

Aku sudah sampai di depan kamar Winda. Beberapa menit yang lalu, Tante Hesti, Mama Winda, meneleponku dengan panik…